A loser!


 Malam itu, hujan turun deras, membasahi kota yang sunyi. Di sebuah kafe kecil di sudut jalan, panggil saja ia dengan nama “si lelaki payah,” duduk sendiri, menatap kosong ke luar jendela. Cangkir kopi di depannya sudah lama dingin, berdiri diam di atas meja tanpa tersentuh. Di sebelahnya, selembar kertas penuh coretan tangan tampak kusut, dengan tinta yang sedikit luntur terkena embun dari cangkir kopi. Coretan-coretan itu berisi frasa-frasa acak, potongan kalimat yang mencoba menangkap kekacauan pikirannya. Setiap baris adalah upaya yang gagal untuk menemukan makna di tengah kebingungannya, seperti jejak-jejak pikiran yang tak pernah selesai.


Ia sudah tak tahu berapa batang rokok yang telah ia bakar malam itu. Asbak di samping cangkir kopi sudah penuh sesak dengan puntung rokok yang menumpuk tinggi, seolah menjadi saksi bisu dari kekosongan hatinya. Rokok yang ia jepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya tampak hampir habis, ujungnya menyala samar. Isapan demi isapan memberi sedikit ruang untuk melupakan kebingungannya, meskipun hanya untuk sesaat. Setiap kali ia meraih rokok baru, rokok yang terbakar di tangannya itu hanya menambah deretan panjang kebisuan yang semakin menggelapkan malam itu. Aroma tembakau bercampur dengan udara lembap kafe, menciptakan atmosfer yang semakin suram. Asap yang mengepul di udara seakan menjadi tanda bahwa meskipun semuanya terus berputar, ia tetap terjebak di tempat yang sama, dalam kebingungannya yang tak terpecahkan.


Pikirannya terus berputar, terperangkap dalam kebingungannya yang semakin dalam. Sebenarnya, ia tidak bisa minum kopi. Lambungnya yang rapuh sudah mengkhianatinya; setiap tegukan kecil saja mampu menghadirkan rasa nyeri yang menusuk, seakan mengingatkan bahwa tubuhnya pun tak ingin bekerja sama. Namun malam itu, ia tetap memesan kopi. Bukan karena ia ingin menikmati rasanya, tetapi karena kenangan yang terkandung di setiap cangkirnya. Ada masa ketika kopi adalah pelengkap pagi yang cerah, saat semangat masih menyala dan hidup terasa penuh harapan. Dengan memegang cangkir itu, ia berharap dapat kembali merasakan sepotong kecil dari masa lalu, meskipun hanya untuk sekejap. Namun harapan itu sirna, tenggelam dalam rasa getir yang menyelimuti lidahnya saat ia memberanikan diri mengambil tegukan pertama.


Sudah beratus-ratus hari berlalu sejak ia memutuskan untuk meninggalkan rumah, meninggalkan kehangatan yang pernah ia kenal. Waktu yang terus berjalan terasa seperti sebuah pengingat pahit bahwa jarak dan kesepian kini menjadi teman setianya. Setiap hari yang berlalu semakin mengaburkan bayangan rumah dalam pikirannya, membuatnya bertanya-tanya apakah ia masih akan mengenali tempat itu jika suatu hari kembali. Tapi ia tahu bahwa konsekuensi ini adalah harga yang harus ia bayar saat meninggalkan rumah, dan sebenarnya, ini adalah keputusannya sendiri sejak dulu—keputusan yang entah mengapa sekarang terasa begitu ironis.


“Si lelaki payah” benar-benar jauh dari rumah, jauh dari segala hal yang dikenalnya. Keluarga, teman, dan kehidupan sederhana yang dulu ia miliki terasa semakin jauh dari jangkauan. Rutinitas harian membuatnya terperangkap dalam kebingungannya yang terus menumpuk. Ia merasa tidak ada yang bisa ia andalkan kecuali perasaan kosong yang semakin mendalam. Hidupnya seperti sebuah kebohongan yang harus terus ia jalani.


Di usia yang seharusnya membuatnya lebih bijak, lebih tahu ke mana hidup harus dibawa, “si lelaki payah” malah merasa seperti sosok yang hilang. Semua orang di sekitarnya bergerak maju, mengejar impian mereka, sementara ia terjebak dalam rutinitas monoton tanpa arah. Harapan yang dulu ia pegang erat kini memudar, dan ia tidak tahu bagaimana cara membangkitkan semangat yang dulu membara.


Dulu, hobi seperti bermain Mobile Legends sampai subuh adalah cara “si lelaki payah” melarikan diri dari kenyataan. Waktu yang ia habiskan tenggelam dalam permainan itu seperti memberi pelipur lara sejenak, meskipun itu hanya sementara. Kini, hobi itu telah lama terlupakan, tersapu oleh kebingungannya yang semakin dalam. Aktivitas yang dulunya menjadi pelarian kini terasa hampa, sebuah kenangan yang sudah memudar, seperti bagian dari hidup orang lain—hidup yang kini terasa sangat asing baginya. Ia sadar, bermain game bukan lagi hal yang harus dilakukan di usianya sekarang. Tidak ada lagi gairah untuk berlarian di dunia maya, tidak ada lagi rasa kemenangan yang dulu memberinya sedikit kebanggaan. Semua itu kini terasa seperti waktu yang terbuang, sebuah kebiasaan yang tidak membawa perubahan apapun dalam hidupnya.


Kini, “si lelaki payah” menemukan hobi barunya, menulis. Awalnya, ia merasa itu hanyalah pelarian dari kebosanan, sebuah cara untuk mengisi waktu kosong yang terus menghantui. Tulisan-tulisannya sederhana, bahkan bisa dibilang dangkal—hanya kalimat-kalimat acak yang tak punya arah jelas. Namun, meskipun begitu, menulis memberinya semacam kenyamanan. Setiap kata yang ditulisnya, meskipun tak membentuk sesuatu yang berarti atau mendalam, memberikan sedikit ruang bagi pikirannya untuk bernafas. Tulisannya mungkin tidak akan membuat perubahan besar, tidak akan pernah mengubah hidupnya, tetapi itu sudah cukup untuk saat ini. Menulis menjadi cara bagi dirinya untuk mengungkapkan apa yang tak bisa diucapkan, meskipun hanya dengan kata-kata yang tak sempurna. Itulah caranya bertahan—menulis, meskipun tahu itu hanya sebuah cara sementara, memberi sedikit kedamaian dalam kebingungannya.


Di dalam dirinya, ada kekosongan yang semakin menganga. Pekerjaan yang ia jalani tidak memberi makna apa-apa. Harapan memudar, dan hubungan tanpa arah hanya membuatnya semakin terasing. Cinta? Itu sudah tidak ada dalam pikirannya. Hidup kini hanya soal bertahan, meskipun ia sendiri tidak tahu berapa lama ia bisa bertahan dalam keadaan seperti ini.


Sekarang, “si lelaki payah” menjadi lebih mudah tersinggung. Hal-hal kecil yang dulu tidak berarti apa-apa kini bisa membuatnya marah atau kecewa. Setiap percakapan terasa penuh ketegangan yang tersembunyi, seolah-olah tidak ada yang memahami apa yang ia rasakan. Bahkan, ia sering mengabaikan orang-orang di sekitarnya selama berbulan-bulan tanpa sepatah kata. Dalam kebisuan itu, ia merasakan keheningan yang justru semakin menambah kesepian.


Namun, di dalam kebisuannya, ia sadar bahwa sebagian besar perasaan mudah tersinggung itu berasal dari egonya yang terlalu tinggi. Ia menyadari bahwa dirinya sering melihat dunia hanya dari perspektifnya sendiri. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapannya, ia menjadi marah dan kecewa. Ego yang dulu memberinya rasa percaya diri kini menjadi beban yang menjauhkan dirinya dari orang lain.


Untuk mengurangi tekanan itu, ia mulai menulis. Kata-kata menjadi pelarian, memberinya sedikit ruang untuk berpikir jernih. Tapi terkadang, hanya untuk menulis beberapa paragraf, ia bisa menghabiskan satu bungkus rokok. Setiap isapan seperti membakar sedikit demi sedikit kekosongan yang ia rasakan, memberinya napas sejenak sebelum kembali terhimpit oleh kebingungannya.


Selain menulis, musik menjadi temannya yang paling setia. Lirik-lirik penuh makna dan melodi yang menyentuh membuatnya merasa seolah ada yang memahami dirinya. Namun, ia tahu itu hanya ilusi. Dalam setiap nada yang mengalun, ada sedikit kedamaian yang ia rasakan, meskipun dunia di luar terus berjalan tanpa memberi ruang untuk bernafas.


Di tengah kebingungannya, “si lelaki payah” tahu ada satu hal yang membuatnya terus bertahan—meskipun hanya sekejap. Waktu terus berjalan, dan meski semua harapan tampak kabur, ia merasa ada sedikit ruang untuk berjuang. Ia tidak tahu apa yang akan datang atau bagaimana akhir dari semua ini. Tapi untuk malam ini, ia hanya memilih untuk tetap ada, menunggu dan berusaha, meskipun tanpa jawaban pasti.









Di tulis oleh : L
Januari 1, 2025

Komentar

Postingan Populer