KUSUT
Sejak kau kencangkan simpul itu di leherku, isi kepalaku kusut kehilangan bentuknya. Setiap simpul yang berhasil ku urai selalu menjelma lilitan lain. Disanalah wujudmu tumbuh menjadi rasa sakit paling megah, melumpuhkan indra, menyisakan bekas di kulit yang masih hafal jamahanmu. Sialnya, tiap kali aku berpura-pura pulih, sudut kamar selalu menelanjangi sisa warasku yang terlanjur biru.