SEBELUM AKU MENJADI AKU
Sebelum aku menjadi "aku",
aku adalah angin yang hilang di sela bambu,
suara gemericik di selokan buta,
potongan koran lama yang diterbangkan badai
ke atap rumah seseorang yang entah.
Aku pernah jadi setitik air di kaca jendela bus tua,
melihat dunia remang-remang, lalu menguap.
Pernah jadi nada yang tercecer dari gitar di tongkrongan,
tersesat di lorong kosong, menemani kecoa.
Aku pernah jadi duri yang terselip di kain permadani,
menunggu telapak kaki yang lalai.
Pernah jadi kata kerja tanpa subjek dalam kalimatmu,
berdegup kencang, tapi tak seorang pun membaca.
Sebelum aku menjadi "aku",
tubuhku adalah peta yang belum digambar.
Rohku adalah asap dari putung rokok gagal mati didalam asbak,
mengembara tanpa doa, tanpa altar.
Aku adalah semua yang terlupakan oleh semesta:
bayangan kedua dari lampu jalan yang redup,
desis terakhir keran air sebelum diam,
garis kapur yang terhapus oleh hujan malam.
Namun suatu hari, entah bagaimana,
kau melangkah masuk ke ruang ketiadaan itu.
Kau memungut pecahan-pecahanku yang berserakan,
menyusunnya tanpa bertanya asal-usul luka.
Lalu kau berkata, “Ini milikku.”
Dan untuk pertama kalinya,
segala yang nyaris lenyap
memiliki alasan
untuk tinggal.
Ditulis oleh : L
Desember 28,2025
Komentar
Posting Komentar