CATATAN DARI KETERASINGAN



 Aku sedang menenun sisa-sisa ingatan yang membusuk, menjahitnya dengan benang getir menjadi sebuah paragraf yang barangkali akan dianggap sebagai jalur panjang menuju kematian. Namun, bagiku ini adalah semangkuk katarsis, sebuah cara untuk memuntahkan isi kepala tanpa benar-benar harus dimengerti. Aku sengaja membangun labirin dalam kata-kataku; biarkan aku tetap menjadi teka-teki, aku tak ingin di mengerti sebab dipahami sepenuhnya oleh manusia lain adalah bentuk ketelanjangan yang paling mengerikan.


Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar seperti wasiat menuju peristirahatan terakhir, tapi tenanglah, aku belum berniat menemui maut. Raga ini masih cukup tangguh untuk berpura-pura, masih cukup lancang untuk melengkungkan senyum paling meyakinkan di hadapan dunia, seolah tak ada raungan bising di kepala. Meski mungkin sebenarnya, jiwaku sudah lama menjadi abu. Mungkin ini adalah jawaban lain dari keterasingan, terkikis oleh kesadaran pahit bahwa tak semua kehidupan layak untuk diperjuangkan habis-habisan.


Jika menyerah pada pikiran adalah definisi dari seorang pecundang, maka silakan sematkan gelar itu di nisanku kelak. Aku sudah lelah mencoba memanen makna dari ladang ekspektasi orang lain; gema suara mereka tak pernah memberi makan rasa laparku akan kedamaian.


Mungkin semua ini adalah kutukan atas waktu yang tak pernah selaras. Aku adalah manusia yang selalu terlambat mengecap makna dari setiap kejadian yang telah berlalu, namun di saat yang sama, aku terlalu terburu-buru menghakimi masa depan yang bahkan belum sanggup kugenggam.


Aku hidup di sela-sela penyesalan masa lalu dan kecemasan masa depan, berdiri di sebuah titik nol yang sunyi, di mana tak ada lagi yang perlu dikejar, dan tak ada lagi yang perlu diselamatkan. Dan di titik itu, aku tak lagi tahu apakah aku sedang hidup atau hanya bertahan dalam bentuk yang samar.


Komentar

Postingan Populer