Hidup yang tak mau disalahkan
Setelah melewati hari yang teramat merepotkan,
dengan sendirinya saya beserta pikiran saya
mencari siapa yang patut disalahkan atas hidup yang kian compang-camping ini.
Terlebih, hidup yang kepalang keparat ini kerap kali tak mau disalahkan sendiri.
Dengan begitu, harus ada yang dikambinghitamkan atas perkara ini.
Pada dasarnya memang selalu begitu, dan akan selalu seperti itu.
Sebab, dengan pemikiran saya yang seada-adanya ini,
saya meyakini bahwa segala pemikiran yang seada-adanya
akan berakhir pada satu ruang temu yang sama.
Apabila memang demikian,
hidup-hidup lain yang sama compang-campingnya dengan saya
akan melakukan hal yang sama dengan saya,
di mana mereka akan mencari siapa yang patut disalahkan.
Pada dasarnya memang selalu begitu, dan akan selalu seperti itu.
Sialnya, perkara semacam ini, bila tak segera ditemukan siapa yang patut disalahkan,
ia akan terus mengulang, mengular, bahkan menyeruak.
Dan akan kembali pada perkara awal: Siapa yang patut disalahkan?
Hingga menciptakan dinding pembatas, di mana kesadaran kehilangan fungsi.
Sebab hidup terlampau menjijikkan untuk merepotkan diri sendiri.
Dan—
Pada dasarnya memang selalu begitu, dan akan selalu seperti itu.

Komentar
Posting Komentar