Kecurigaan orang-orang kalah
Ketika aku menyaksikan diri telanjangi habis-habisan oleh kekalahan.
Barangkali mengasingkan diri adalah satu-satunya jalan.
Sebab kekalahan telah melucuti hampir seluruh isi warasku,
hingga kehilangan akal, atau mungkin memang tak pernah ada akal.
Lalu kau datang membawa sebait rayuan:
Aku ada untukmu, tak ada ruang duka kali ini, rebahlah di dadaku.
Barangkali kekalahan memang punya penawar.
Namun kekalahan juga selalu membuat orang mudah curiga bukan ?
Sebab kudengar,
kecupan yang singgah saat orang yang sedang kalah, biasanya itu bukan cinta
melainkan kasihan yang pandai menyamar.
Lalu, berapa lama kecupan-kecupan itu sanggup mekar didadamu,
sebelum ikut karam bersama kekalahanku yang lain ?

Komentar
Posting Komentar